Situs resmi The Man Booker International Prize mengumumkan
novel karya penulis Indonesia Eka Kurniawan itu masuk dalam daftar
pertama nominasi bersama 13 buku karya penulis dari berbagai negara.
Dewan juri telah memilih 13 buku tersebut dari 155 novel dari 12 negara dengan sembilan bahasa berbeda, termasuk novel A Strangeness in My Mind karya peraih Nobel sastra asal Turki, Orhan Pamuk. Hak atas fotoEka KurniawanImage caption
"Ini novel campur aduk, ada novel psikologi, tapi di
saat yang sama, ada aspek mitologi manusia harimau, ada metafora
tentang politik," kata Eka.
Dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia,
Heyder Affan, penulis kelahiran 1975 di Tasikmalaya, Jawa Barat, ini
mengaku menerima informasi itu dari pesan tertulis yang dikirimkan
teman-temannya pada Kamis (10/03) pagi.
"Teman-teman saya kirim
SMS tadi pagi ketika saya antar anak saya sekolah," kata Eka Kurniawan,
yang novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.
'Pengin ngumpet...'
"Perasaan saya? Agak nervous, pengin ngumpet (sembunyi) saja," ujar pria lulusan Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1999 ini, seraya terkekeh.
Eka
mengatakan, sebagai penulis, dirinya sudah terbiasa bekerja dalam
suasana sunyi. "Ya, layaknya menjalani hidup seperti kayak pendeta. Saya
terbiasa membaca buku sendiri, menulis sendiri, riset sendiri."
Laksmi Pamuntjak menyeruak di antara nama-nama
penulis perempuan dari Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan
Karibia. Ia masuk enam besar nominasi penghargaan penulisan
Liberaturpreis di Jerman.
Satu-satunya penulis yang mewakili Indonesia itu membawa karyanya yang sudah mendunia, Amba. Novel roman berlatar peristiwa 1965 itu diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan berjudul Alle Farben Rot.
Laksmi
menjadi nomine bersama Marguerite Abouet penulis asal Afrika, Najet
Adouani penulis asal Tunisia, Maria Sonia Cristoff penulis asal
Argentina, Ayelet Gundar-Goshen penulis asal Israel, dan Antjie Krog
yang juga penulis asal Afrika.
"Penentuan pemenangnya [Liberaturpreis] adalah melalui popularitas, dengan cara public voting.
Jadi, publik yang menentukan siapa yang terbaik," kata Dionisius Wisnu
hubungan masyarakat PT Gramedia Pustaka Utama dalam keterangan yang
diterima CNNIndonesia.com.
Hingga awal Mei lalu, Laksmi memimpin peroleh suara. Penulis Aruna dan Lidahnya
itu dipilih oleh 45,79 persen publik, berjarak tipis dari Najet di
posisi ke-dua. Hari ini, Selasa (31/5), hari terakhir pemungutan suara.
Ini bukan pertama Amba
menorehkan prestasi. Sebelumnya buku itu disebut sebagai karya
internasional terbaik paruh tahun ke-dua yang telah diterjemahkan ke
bahasa Jerman, menurut daftar sastra Weltempfaenger.
Buku itu juga disebut sebagai 10 besar karya fiksi terbaik oleh sejumlah media ternama Jerman seperti Frankfurter Allgemeine Zeitung.
Selain bahasa Jerman, Amba juga akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Question of Red. Buku itu terbit 12 Juli mendatang.
Liberaturpreis
merupakan penghargaan yang diselenggarakan oleh lembaga Lit Prom.
Penghargaan itu sengaja ditujukan untuk menyuarakan penulis-penulis
perempuan yang selama ini belum terepresentasikan di dunia.
(rsa/vga)
Gadis berusia 12 tahun itu berdiri di muka kelas dengan wajah pucat dan
merah padam. Serbuan gumpalan kertas dan caci maki seolah tak berhenti
menghantam tubuh mungilnya yang sedang berdiri di atas satu kaki.
Gara-gara ketahuan mencoret-coret bagian belakang buku tulisnya, ia
dihukum berdiri satu kaki di depan kelas dan disoraki teman sekelasnya.
Tak cukup sampai di sana. Setelah jam istirahat berbunyi, ia masih harus
menerima amarah guru kelas berikut cubitan yang membirukan lengannya.
Kejadian itu belum bisa hilang dari benaknya meskipun puluhan tahun
berlalu dan sang guru kelas telah meninggal dunia. Masalahnya sepele. Ia
menulis bagian belakang buku tulisnya saat jam pelajaran dengan
cerita-cerita roman, karena jenuh dengan pelajaran sang guru. Belakangan
ia pun mengetahui bahwa ia suka menulis dan menggambar. Hampir semua
buku pelajarannya penuh coretan di bagian belakang. Ia menghilangkan
rasa jenuh belajar dengan menulis cerita-cerita khayalan dan menggambar
kartun.
Walaupun mengalami hukuman di kelas 6 SD, kesukaannya menulis dan
menggambar itu tak berhenti. Ketika duduk di bangku SMP, akhirnya ia
menulis di buku tersendiri sehingga tidak mengotori buku pelajarannya.
Tulisan itu semakin banyak terkumpul menjadi cerita-cerita pendek dan
novela. Setelah duduk di bangku SMA, ia beranikan diri mengirim
tulisan-tulisan khayalannya ke majalah-majalah dan baru dimuat saat
duduk di kelas 3 SMA. Perjalanan yang panjang untuk menjadi seorang
penulis dan novelis.
Ya. Dulu profesi penulis dan novelis masih dipandang sebelah mata. Kini
profesi itu semakin dikenal. Ia terus menekuni hobi menulisnya meskipun
perjalanan tak selalu mulus. Penghargaan pertamanya diperoleh ketika
baru lulus kuliah. Novel pertamanya menjadi juara kedua sebuah lomba
novel. Penghargaan yang memotivasinya untuk terus menulis.
Seberapa penting sebuah penghargaan baginya? Tentu saja, bagi seorang
gadis yang pernah dihukum di depan kelas karena ketahuan menulisi buku
pelajarannya, penghargaan itu sangat penting. Ternyata apa yang
dilakukannya dulu itu bukan perbuatan bodoh, sebagaimana yang dituduhkan
oleh mendiang gurunya. Sayang, sang guru belum sempat menyaksikan
puluhan buku yang telah diterbitkan si anak "bodoh" itu karena sudah
meninggal dunia.
Penghargaan adalah motivasi untuk melakukan lebih banyak lagi prestasi.
Dalam Teori Kebutuhan Maslow oleh Abraham Maslow, pakar Psikologi,
penghargaan adalah salah satu kebutuhan dalam puncak teratas yang harus
dipenuhi setelah kebutuhan-kebutuhan dasar. Adanya penghargaan dapat
memicu seseorang untuk melakukan lebih banyak lagi hal positif untuk
kemajuan dirinya maupun orang lain.
Gadis itu, adalah aku. Telah merasakan betapa sebuah penghargaan telah
mendorongnya untuk terus berprestasi. Walau sang guru telah tiada, aku
tak ingin berhenti. Penghargaan adalah buah cinta dan keikhlasan dari
melakoni pekerjaan yang dulu dicemooh banyak orang. Bertahun-tahun
menjadi seorang penulis, aku telah merasakan pahit manisnya. Tak semua
pekerjaanku dihargai, tetapi aku tetap bertahan menjalani profesi yang
telah mendarah daging dalam tubuhku ini. Jika aku mendapatkan
penghargaan, maka itulah buah cinta dan keikhlasan. Jika mengikuti Teori
Maslow, maka aku telah berada di puncak piramida.